Menyatu Dengan Gerimis
oleh puisi cinta pujangga (Catatan) pada 10 Mei 2012 pukul 21:06
Setiap
kali turun gerimis aku selalu mengenang sebuah kisah, seperti malam
ini Ketika gerimis membuat banyak orang terjebak dalam pilihan pilihan
yang sulit, mereka mengumpat kesal ketika berteduh di tepian jalan,
beberapa yang lain memaksakan diri berlari dalam gerimis. Kadang,
gerimis memang mengesalkan. Tapi, bagiku gerimis menyimpan salah satu
memori terindah dalam hidupku. Setiap kali gerimis turun, aku selalu
setia menatap jendela, menikmati rintik rintik gerimis merambati genting
atau helai helai dedaunan, atau terkadang aku berbaur dengan tetesan
gerimis di jalanan, karena gerimis itu indah untukku, didalamnya ada
cerita menarik dan menyenangkan untuk ku kenang, bahkan ketika aku tak
dapat mengingat bayangan wajahnya dengan baik lagi nantinya, dan
semuanya bermula dari gerimis di senja itu.
Bermimpi pun aku tak pernah untuk bertemu dengannya pada hari itu, namun hari itu aku benar banar menemuinya dengan apa adanya diriku saat itu, berbekal keinginan dan kerinduan, aku meng-iyakan tawaran untuk bertemu dengannya di tempat dia tinggal saat itu, setelah merepotkkan banyak kawanku, akhirnya aku sampai di jalan sebelum memasuki gang tempat tinggalnya, pesan singkat pun aku kirim pertanda bahwa aku telah sampai di tempat yang ia tunjukkan, ketika aku berjalan menuju tempat tinggalnya, tepat di pertigaan arah ke tempat tinggalnya aku lamat lamat melihatnya dengan motornya, sebelum memanggilnya aku pastikan bahwa itu benar benar dirinya, dan aku tak salah, walaupun mata sudah cukup lama tak sempat menatapnya selama beberapa tahun, namun aku yakin itu dia, dia yang slalu kurindukan dalam diamku, dia yang bila aku mengingatnya bertambah semangatku, iya, itu dia, aku tak akan salah mengingat orang yang tak pernah hilang dari ingatanku.
Sempat kusebut namanya beberapa kali sebelum akhirnya dia menoleh ke arahku, aku tersentak, tatapan matanya cukup membuatku mengingat kembali ke masa dimana aku terlalu kecil untuk mengerti cinta, cinta sederhana seorang siswa sekolah dasar yang cukup merepotkan. Kemudian kita pun saling menghampiri, aku tersenyum senang ketika mendapatinya dengan busananya yang sopan dibalut kerudungnya yang hitam, ada yang mendesir halus di dalam dadaku, tak bisa aku jelaskan perasaan apa itu, yang aku inginkan hanya semoga waktu berhenti untuk sore itu.
Sesampainya kita di tempat tinggalnya, dia menawarkan secangkir kopi susu hangat untuk menemani dingin dalam gerimis senja saat itu, dua kursi kayu tempat kita duduk yang terpisah oleh meja kecil di tengahnya itu mengarah ke taman, posisi yang membuat kita sanggup untuk mengamati rintik rintik gerimis berjatuhan, getar getar badanku mungkin sempat terlihat olehnya, kejadian langka yang jarang aku dapati dalam pengalaman hidupku, berdua menikmati rintik gerimis dalam balutan kemuning senja dengan seseorang yang telah lama aku pendam untuknya rasa cinta, cukup rumit bila harus ku gambarkan betapa bahagianya diriku saat itu.
Rasanya waktu begitu cemburu ketika aku sedang bersamanya, karena waktu dua jam yang kuhabisakan bersamanya terasa hanya beberapa saat saja, jujur aku canggung jika harus berbicara santai dengannya dalam keadaan jantung berdegup kencang, bahkan aku mungkin tampak kebingungan dalam memilih kata yang tepat yang akan aku gunakan utuk menyanjung atau menanggapi tutur katanya, sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, menatap teduh wajahnya yang terbalut kerudung coklat, dan mengamati bola matanya yang tampak berseri seri, senyuman senyuman kecilnya menentramkan kagelisahanku, tutur kata yang keluar dari bibirnya menceriakan suasana mendung bercampur gerimis sore itu, indah, seakan akan senja saat itu menyatu dengan keanggunannya membentuk irama alunan lagu terindah untuk ku.
Lembayung senja meremang menghilang menjadi malam, mataharipun tenggelam dalam awan awan petang, namun rintik rintik tetesan gerimis terus saja menyaksikan diriku bahagia, hingga gaung gema adzan berkumandang, menyeru untuk segera memenuhi panggilan-Nya, tak terasa, pertemuan terindah ini harus sampai pada akhirnya, rasanya untuk beranjak meninggalkannya cukup berat, langkah langkah ini terantai oleh keanggunan senyumannya sore itu, dan aku tak ingin begitu saja selesai dari rasa bahagiaku, tetapi entah kenapa ada keyakinan dalam diriku bahwa akan ada gerimis gerimis lainnya yang akan menjadi tempat pertemuan kita "nanti". "Hufft !! "Kalimat itu selalu terasa terlalu lama untukku bila terucap darimu, namun, ada doa ini yang selalu menggema dalam munajatku, " Semoga di dalam istana "nanti", kita bisa memiliki waktu dan suasana yang lebih baik lagi untuk berbicara dengan hati...
Bermimpi pun aku tak pernah untuk bertemu dengannya pada hari itu, namun hari itu aku benar banar menemuinya dengan apa adanya diriku saat itu, berbekal keinginan dan kerinduan, aku meng-iyakan tawaran untuk bertemu dengannya di tempat dia tinggal saat itu, setelah merepotkkan banyak kawanku, akhirnya aku sampai di jalan sebelum memasuki gang tempat tinggalnya, pesan singkat pun aku kirim pertanda bahwa aku telah sampai di tempat yang ia tunjukkan, ketika aku berjalan menuju tempat tinggalnya, tepat di pertigaan arah ke tempat tinggalnya aku lamat lamat melihatnya dengan motornya, sebelum memanggilnya aku pastikan bahwa itu benar benar dirinya, dan aku tak salah, walaupun mata sudah cukup lama tak sempat menatapnya selama beberapa tahun, namun aku yakin itu dia, dia yang slalu kurindukan dalam diamku, dia yang bila aku mengingatnya bertambah semangatku, iya, itu dia, aku tak akan salah mengingat orang yang tak pernah hilang dari ingatanku.
Sempat kusebut namanya beberapa kali sebelum akhirnya dia menoleh ke arahku, aku tersentak, tatapan matanya cukup membuatku mengingat kembali ke masa dimana aku terlalu kecil untuk mengerti cinta, cinta sederhana seorang siswa sekolah dasar yang cukup merepotkan. Kemudian kita pun saling menghampiri, aku tersenyum senang ketika mendapatinya dengan busananya yang sopan dibalut kerudungnya yang hitam, ada yang mendesir halus di dalam dadaku, tak bisa aku jelaskan perasaan apa itu, yang aku inginkan hanya semoga waktu berhenti untuk sore itu.
Sesampainya kita di tempat tinggalnya, dia menawarkan secangkir kopi susu hangat untuk menemani dingin dalam gerimis senja saat itu, dua kursi kayu tempat kita duduk yang terpisah oleh meja kecil di tengahnya itu mengarah ke taman, posisi yang membuat kita sanggup untuk mengamati rintik rintik gerimis berjatuhan, getar getar badanku mungkin sempat terlihat olehnya, kejadian langka yang jarang aku dapati dalam pengalaman hidupku, berdua menikmati rintik gerimis dalam balutan kemuning senja dengan seseorang yang telah lama aku pendam untuknya rasa cinta, cukup rumit bila harus ku gambarkan betapa bahagianya diriku saat itu.
Rasanya waktu begitu cemburu ketika aku sedang bersamanya, karena waktu dua jam yang kuhabisakan bersamanya terasa hanya beberapa saat saja, jujur aku canggung jika harus berbicara santai dengannya dalam keadaan jantung berdegup kencang, bahkan aku mungkin tampak kebingungan dalam memilih kata yang tepat yang akan aku gunakan utuk menyanjung atau menanggapi tutur katanya, sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, menatap teduh wajahnya yang terbalut kerudung coklat, dan mengamati bola matanya yang tampak berseri seri, senyuman senyuman kecilnya menentramkan kagelisahanku, tutur kata yang keluar dari bibirnya menceriakan suasana mendung bercampur gerimis sore itu, indah, seakan akan senja saat itu menyatu dengan keanggunannya membentuk irama alunan lagu terindah untuk ku.
Lembayung senja meremang menghilang menjadi malam, mataharipun tenggelam dalam awan awan petang, namun rintik rintik tetesan gerimis terus saja menyaksikan diriku bahagia, hingga gaung gema adzan berkumandang, menyeru untuk segera memenuhi panggilan-Nya, tak terasa, pertemuan terindah ini harus sampai pada akhirnya, rasanya untuk beranjak meninggalkannya cukup berat, langkah langkah ini terantai oleh keanggunan senyumannya sore itu, dan aku tak ingin begitu saja selesai dari rasa bahagiaku, tetapi entah kenapa ada keyakinan dalam diriku bahwa akan ada gerimis gerimis lainnya yang akan menjadi tempat pertemuan kita "nanti". "Hufft !! "Kalimat itu selalu terasa terlalu lama untukku bila terucap darimu, namun, ada doa ini yang selalu menggema dalam munajatku, " Semoga di dalam istana "nanti", kita bisa memiliki waktu dan suasana yang lebih baik lagi untuk berbicara dengan hati...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.