Kesalahan terbesarku adalah menyukainya, mempercayainya, dan mempertahankannya. Karena yang ada kemudian dia tidak menghargaiku, merendahkanku, lalu mencampakkanku. Dan ketika itu semua bertemu, mereka bereaksi membentuk senyawa baru. Sebut saja senyawa itu ‘Benci’ dengan rumus empiris B3NC1. Analogi ini berada dalam medium otakku dengan bentuk zat emosi. Dan sekarang dengan mudahnya dia bilang, kangen…
Setengah tahun berlalu setelah aku dicampakkan olehmu. Dalam rentang waktu itu aku sudah bisa menyesuaikan perasaanku denganmu. Sudah lebih datar dan nyaris tak bergelombang. Dalam rentang waktu itu pula kau terkadang memberi gelombang kejut beberapa kali padaku, membuat jantungku selalu berdetak tidak karuan dan menyumbat aliran napasku.
Kini rasaku padamu telah usai kecuali satu, efek pengkhiatanmu. Kau tahu, tragedi menyesakkan itu telah membuatku membangun batas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Aku mengurung diriku dan takut untuk keluar lagi. Takut membiarkan hatiku mempercayai kaummu, kaum hawa. Bukan! Aku bukan beralih menjadi penyuka sesama jenis. Hanya saja hatiku terus mendesak untuk tidak menjalin hubungan lagi. Entah kenapa, setiap aku dekat dengan seseorang, semakin ku dekat dengannya semakin besar juga dorongan hatiku untuk menjauh. Mungkin ia telah terlalu lelah menahan beban.
“Aku kangen padamu.” Hah! Ayolah, itu hanya membuatku mual. Semakin kau mengatakannya semakin ingin kumuntahkan isi perutku. Ku anggap itu bualan yang hanya membuang waktuku. Tidak bisakah kau membuatku merasa tenang dan mengecup kebahagiaan yang telah kubangun sendiri sedikit lebih lama lagi? Aku telah mendapatkan kebahagiaan yang sempat kau bekukan selama aku bersamamu. Sekarang, tidak akan kubiarkan sedikitpun bagian dari dirimu menyentuhnya. Tidak lagi.
“Aku kangen padamu.” Apa kau mengerti setiap kali kau mengatakan itu saat itu juga aku ingin menambahkan perona merah pada pipimu dengan telapak tanganku. Oh ya, tentu saja kau tidak mengerti karena dari dulu kau memang tidak pernah tahu siapa aku. Tentu saja karena aku selalu membuat pendapat sendiri tentang diriku. Kau ingat, kau penah menjulukiku ‘oon’, ‘aneh’, ‘stress’, dan masih banyak lagi yang lebih buruk dari itu dengan nada merendahkanmu. Apa kau yakin aku seperti itu? Sejauh apa kau mengenalku? Bahkan bisa kusimpulkan kau belum mengenalku.
“Aku kangen padamu.” Berhentilah mengucap kalimat menggelikanmu itu. Berhenti mengacaukan kinerja kesabaranku. Seuntai kata-kata itu hanya mengupgrade emosiku menjadi level yang lebih tinggi. Kumohon, jangan sampai tekanan dalam ruang emosiku meledak. Biarkan aku tenang tanpa kehadiranmu. Tidak cukupkah penyiksaanmu terhadapku dulu? Tidak bisakah kau membiarkanku memeluk kebahagiaan ini tanpa campur tanganmu?
Kesalahan terbesarku adalah menyukaimu, mempercayaimu, dan mempertahankanmu. Karena yang ada kemudian kau tidak menghargaiku, merendahkanku, lalu mencampakkanku. Dan kau tahu, ketika itu semua bertemu, mereka bereaksi membentuk senyawa baru. Sebut saja senyawa itu ‘Benci’ dengan rumus empiris B3NC1. Analogi ini berada dalam medium otakku dengan bentuk zat emosi. Dan sekarang dengan mudahnya kau bilang, kau merindukanku. Sebentar lagi aku mungkin akan memperlakukanmu dengan tidak baik jika kau terus memaksaku untuk mendengar kicauan kebohonganmu itu. Usaikan saja usahamu, aku tidak akan tertipu lagi olehmu.


