Selasa, 27 Desember 2011

Kau Upgrade Marahku dengan Kangenmu

Kesalahan terbesarku adalah menyukainya, mempercayainya, dan mempertahankannya. Karena yang ada kemudian dia tidak menghargaiku, merendahkanku, lalu mencampakkanku. Dan ketika itu semua bertemu, mereka bereaksi membentuk senyawa baru. Sebut saja senyawa itu ‘Benci’ dengan rumus empiris B3NC1. Analogi ini berada dalam medium otakku dengan bentuk zat emosi. Dan sekarang dengan mudahnya dia bilang, kangen…

Setengah tahun berlalu setelah aku dicampakkan olehmu. Dalam rentang waktu itu aku sudah bisa menyesuaikan perasaanku denganmu. Sudah lebih datar dan nyaris tak bergelombang. Dalam rentang waktu itu pula kau terkadang memberi gelombang kejut beberapa kali padaku, membuat jantungku selalu berdetak tidak karuan dan menyumbat aliran napasku.

Kini rasaku padamu telah usai kecuali satu, efek pengkhiatanmu. Kau tahu, tragedi menyesakkan itu telah membuatku membangun batas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Aku mengurung diriku dan takut untuk keluar lagi. Takut membiarkan hatiku mempercayai kaummu, kaum hawa. Bukan! Aku bukan beralih menjadi penyuka sesama jenis. Hanya saja hatiku terus mendesak untuk tidak menjalin hubungan lagi. Entah kenapa, setiap aku dekat dengan seseorang, semakin ku dekat dengannya semakin besar juga dorongan hatiku untuk menjauh. Mungkin ia telah terlalu lelah menahan beban.

“Aku kangen padamu.” Hah! Ayolah, itu hanya membuatku mual. Semakin kau mengatakannya semakin ingin kumuntahkan isi perutku. Ku anggap itu bualan yang hanya membuang waktuku. Tidak bisakah kau membuatku merasa tenang dan mengecup kebahagiaan yang telah kubangun sendiri sedikit lebih lama lagi? Aku telah mendapatkan kebahagiaan yang sempat kau bekukan selama aku bersamamu. Sekarang, tidak akan kubiarkan sedikitpun bagian dari dirimu menyentuhnya. Tidak lagi.

“Aku kangen padamu.” Apa kau mengerti setiap kali kau mengatakan itu saat itu juga aku ingin menambahkan perona merah pada pipimu dengan telapak tanganku. Oh ya, tentu saja kau tidak mengerti karena dari dulu kau memang tidak pernah tahu siapa aku. Tentu saja karena aku selalu membuat pendapat sendiri tentang diriku. Kau ingat, kau penah menjulukiku ‘oon’, ‘aneh’, ‘stress’, dan masih banyak lagi yang lebih buruk dari itu dengan nada merendahkanmu. Apa kau yakin aku seperti itu? Sejauh apa kau mengenalku? Bahkan bisa kusimpulkan kau belum mengenalku.

“Aku kangen padamu.” Berhentilah mengucap kalimat menggelikanmu itu. Berhenti mengacaukan kinerja kesabaranku. Seuntai kata-kata itu hanya mengupgrade emosiku menjadi level yang lebih tinggi. Kumohon, jangan sampai tekanan dalam ruang emosiku meledak. Biarkan aku tenang tanpa kehadiranmu. Tidak cukupkah penyiksaanmu terhadapku dulu? Tidak bisakah kau membiarkanku memeluk kebahagiaan ini tanpa campur tanganmu?

Kesalahan terbesarku adalah menyukaimu, mempercayaimu, dan mempertahankanmu. Karena yang ada kemudian kau tidak menghargaiku, merendahkanku, lalu mencampakkanku. Dan kau tahu, ketika itu semua bertemu, mereka bereaksi membentuk senyawa baru. Sebut saja senyawa itu ‘Benci’ dengan rumus empiris B3NC1. Analogi ini berada dalam medium otakku dengan bentuk zat emosi. Dan sekarang dengan mudahnya kau bilang, kau merindukanku. Sebentar lagi aku mungkin akan memperlakukanmu dengan tidak baik jika kau terus memaksaku untuk mendengar kicauan kebohonganmu itu. Usaikan saja usahamu, aku tidak akan tertipu lagi olehmu.

Senin, 22 Agustus 2011

Sepucuk Surat Untukmu

Orang bilang hujan bisa membersihkan segalanya.
Tapi jejak yang kuikuti tidak hilang karena hujan sekali.

Kau bilang, “Aku suka kamu.”
Aku diam, meresapi keseriusanmu. Tapi aku diam terlalu lama.

“Kau manis,” senyum itu yang kau berikan.
Aku hanya menunduk dan kembali diam. Hanya tak mampu bicara ketika suhu tubuhku meningkat karena senyum itu.

“Aku suka kamu,” sekali lagi kalimat itu terucap.
Kesempatanku seharusnya. Tapi aku ragu. Ragu akan keseriusanmu, ragu akan perasaanku. Sungguh kah ini cinta?
Kembali keheningan yang menyeruak dinding tak kasat mata. Kurasa aku butuh sedikit waktu lagi.

Sesekali matamu menatap lurus padaku. Tajam, mencoba masuk mencari celah pada hatiku. Aku menunduk, berusaha menutup rapat-rapat apa yang bisa kau lihat.

“Maaf, aku selama ini bohong. Aku suka orang lain.”
Saat kau bilang maaf, itu saat aku merasa menjadi wanita terbodoh di dunia.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku berusaha meyakinkan diri sambil memeluk diri. Sepertinya kerapuhan yang mulai menghantui. Tapi tak satu pun tetes air mata mengalir.

Di sini sakit. Kurasa bukan luka. Hanya nyeri. Karena aku tak yakin ada cinta di sela-sela hatiku.

“Lupakan aku.”
Bagaimana? Kau membuatku overdosis dengan ucapan manismu. Ketika hampir seluruh otakku terisi olehmu, katakan padaku bagaimana cara melupakanmu. Membuatku amnesia kah?

“Lupakan aku.”
Bagaimana?Kau telah mendarah daging. Saat setiap udara yang masuk dalam rongga paru, ada kau di dalamnya, bagaimana cara aku melupakanmu? Membuatku tak bernapas kah?Kini aku merasa sesak karena kau telah menjadi racun di setiap sel hemoglobinku. Bernapas atau pun tidak, sama saja. Keragu-raguanku akan dirimu yang menyelamatkanku.

Kubesarkan volume suara MP3 yang kumainkan. Aku menangis dalam tiga menit iring-iringan musik yang mengingatkan pada kejahatanmu. Ya, baru kali ini aku menangis untukmu. Ah, bukan. Tapi untuk diriku yang terlalu bodoh.

Ketika jarum jam telah berputar, di sana ada harapanku agar melupakanmu. Tapi jejakmu terlalu jelas. Saat aku diam dalam putaran waktu, dirimu menari-nari dalam bayangan. Tapi aku masih tak yakin ada cinta untuk dirimu dalam hatiku. Kurasa keragu-raguanku yang semakin hari memecutku hingga semakin lama semakin terasa sakit.

Saat kau sulit bernapas, saat kau menangis ketika bangun di tengah malam, dan saat kau merasa ia terus menari dalam sel otakmu di setiap detik hidupmu, apakah itu bisa disebut cinta? Kurasa tidak selalu. Karena keyakinanku bahwa semua yang menyebabkan seperti itu adalah kenangan manis bersamamu. Ya, kini aku mengerti. Aku yakin bahwa semua yang membuatku sakit adalah kenangan yang kini menjadi racun. Bukan dirimu yang telah kucinta. Aku tidak jatuh dalam perangkapmu. Tidak! Aku hanya teracuni oleh kenangan bersamamu.

Benda-benda itu kubuang. Bukan karena benci. Hanya saja aku tidak sekuat itu. Mereka mematahkan satu demi satu rangka sayapku setiap kali kupandangi. Aku hampir tak mampu berdiri tegap lagi.

Satu bulan… dua bulan… tiga bulan… hujan tak kunjung datang hingga terasa gersang. Jejakmu sedikit menghilang menjadi debu dan terbang. Kau, aku, kini hanya menjadi dua orang yang bertemu dan bicara.

Tapi ketika hanya sisa separuh otakku yang menampungmu, kau bicara padaku lagi. Entah itu kebohongan atau bukan. Kau bilang tak bisa melupakanku. Kau bohong saat mengatakan bahwa kau menyukai orang lain. Lalu, apa ini kebohongan yang lain? Bohong atau pun bukan, hatiku sudah tertutup meski ada sedikit celah untuk membukanya. Mungkin jika kau memaksakan diri, kau bisa duduk di singgasana milikku. Tapi kuyakinkan pada dirimu juga diriku, bahwa aku tidak bisa kembali menerima perlakuan baik itu.

Mungkin kekeraskepalaanku dulu yang menciptakan kebohonganmu yang menyakiti diriku. Bukan salahmu, tapi juga salahmu. Jika kau bisa bertahan sedikit lebih lama, mungkin akhir cerita kitab kita bukan sesuatu yang menyedihkan. Aku tahu bukan hanya aku yang merasa sakit. Tapi juga kau.

Bukuku telah kututup rapat-rapat meski ada hasrat untuk membukanya kembali. Aku akan menarikan pena di atas putih yang baru. Kuberitahu padamu, bukan penyesalan yang kudapat dari setiap detik yang kulalui bersamamu, tapi sebuah pelajaran untuk membuat sebuah kisah yang lebih baik.

Kini hujan kembali mengguyur. Jejakmu mulai menghilang di tanah yang becek, kemudian kering dan tertiup oleh angin. Aku berhenti, lalu mulai mencari jejak lain yang bisa kuikuti.

Rabu, 13 Juli 2011

surat cinta untuk istriku kelak


Dear Miss Anonymous

Maaf jika aku tak bertanya bagaimana kabarmu, karena saat ini aku menganggap kau masih berada dalam lautan probabilitas. Kamu, isteriku di masa depan, bisa jadi siapa saja - aku tak tahu siapa dan aku pun tak berminat untuk mengetahuinya sekarang. Tak penting. Selain itu, sepertinya intuisiku tak cukup tajam untuk melihat pertanda dari Tuhan dari tiap wanita yang kutemui - jika takdir memang ada.

Aku menulis surat ini, surat cinta - iseng - ini, sebagai satu peneguh rasa kala seorang lelaki sepertiku sedang masuk ke dalam gua dan merenung, menarik diri dari gelut sehari-hariku yang terang lalu menggumuli gelap malam dengan serapuhnya. Siklus rapuh-kuat lelaki. Peneguh untuk sekarang, because life is not steady, and everyone of us sitting on a chair that is not sturdy, at least for now.

Aku ingin memulai surat cinta kepada misteri ini dengan memperkenalkan diriku.

Jika kelak kau membaca ini, diam-diam sajalah, karena nanti kuselipkan kertas ini ke tangannmu sebelum prosesi berlangsung dikala angan para tamu membumbung riang di bawah tenda. Pintaku, baca ini sebelum semuanya terlambat, karena aku takut jika kau adalah salah satu wanita naif yang sering aku temui. Aku tak mau kamu menyesal

Aku, azy, suamimu nanti, cuma seorang lelaki biasa saja. Aku bukan orang hebat, dengan masa lalu yang putih. Ada beberapa titik membekas dimana-mana. Dimata orang lain mungkin mereka melihat titik itu berwarna hitam, tapi bagiku aneka warna. Kadang aku bertanya dalam hati, bisakah hati kita merekam suatu kejadian dan membuatnya tidak terusik kejadian buruk di masa depan?

Jika kau ingin tahu tentang keluargaku, so here it is. Aku bangga pada neneku, tapi tidak seperti itu pada ibuku. Diantara saudaraku yang lain, hanya aku yang seperti terbuang dari rumah, dan aku benci itu. But I can't stop them using me over and over again.

Aku orang yang penyayang. Tapi jangan pernah meminta padaku untuk disayangi, karena aku benci tindakan seperti itu. Caraku menyayangi, mungkin dengan memperhatikanmu dari jauh, membelamu ketika ada yang menjelekkanmu, membebaskanmu menjadi diri sendiri, dan meyakinkanmu bahwa kamu tak pernah kesepian kala kau sedih. yang paling sering aku lakukan, adalah menahan amarah atau diam ketika kau berbuat salah. Tak banyak memang. Tapi aku melakukan itu dengan sepenuh hati.

Aku suka berdoa, tapi jarang sholat sejak terakhir kali aku berhenti sekolahi. Pernah beberapa orang menghakimiku karena aku tidak sholat, dalam hati aku berdoa, semoga saja mereka tidak pernah mendapatkan pengalaman sepertiku... mungkin mereka tidak tahu yang aku alami dulu. Just forget it. Aku sudah putus asa meminta Tuhan mengabulkan permohonan hatiku. Walau sekarang, aku sendiri tidak nyaman dengan ketidaktaatan ini

Jika kau benar-benar menginginkan aku - suamimu di masa depan - tetap bertahan padamu nanti, aku punya beberapa permintaan. Aku tahu aku orang yang penyendiri. Aku senang melakukan segala sesuatunya sendiri. Mungkin karena sejak kecil aku merasa bahwa seluruh dunia mengandalkanku dan memanfaatkanku. Kelak, seorang istri bagiku adalah penyemangatku, dan dia melakukan itu dengan keriangannya. Tak perlu memberiku kata bijak, bagiku itu terlalu menggurui. Aku suka jika orang-orang di sekelilingku tersenyum dan tertawa. Kemudian, aku pun tak suka dinilai. Aku selalu melakukan yang terbaik setiap kali aku mengerjakan sesuatu. Maksudku, terlalu tega jika kau menilai setiap usahaku. Sama saja seperti kau menuntut lebih dari apa yang bisa aku usahakan.

Sebenarnya aku sudah lupa apa dan bagaimana kebahagiaan itu. Jika kelak nanti aku sedang duduk menyendiri di teras atau di halaman rumah, maukah kau datang menghampiriku dan mengatakan bahwa kau bahagia bersamaku? Dan setiap kali kau merasa bahagia karena sesuatu, aku ingin kau mengatakannya padaku. Aku ingin tahu apa yang membuat orang-orang bahagia..

Cinta? Bagiku cinta kadang menjemukan karena tak pernah memuaskanmu. Jika kau mengharapkan cinta dariku, berharaplah sekedarnya saja, dan biarkan aku memberikan lebih dari yang kau harapkan agar kau selalu lebih bahagia dari yang kau bayangkan.

Sejatinya, aku bukan lelaki sempurna, pun jauh dari kata diatas rata-rata. Jika aku mampu membuatmu mengatakan YA ketika aku memintamu menjadi isteriku, belum tentu berarti aku mampu membuatmu selalu bahagia dalam pernikahan. Tapi berjanjilah padaku bahwa aku tak sendirian ketika aku mengusahakan kebahagiaan kita, aku mau kamu disampingku.

Sekarang saatnya aku belajar memujaimu, walau aku belum tahu siapa kau. Aku ingin belajar mengagumimu... agar ketika kelak kecantikanmu dimakan usia, kau sering marah-marah karena persoalan harta, anak, dan kehidupan rumah tangga... setidaknya aku menyimpan ini sebagai kenangan. Bahwa aku menyukaimu sejak dulu. Bahkan sebelum aku mengetahui siapa yang ditakdirkan Tuhan bagiku.

Ya...! Aku menyukai siapa pun yang ditakdirkan Tuhan untukku

Kamis, 10 Maret 2011

Peron Kosong Stasiun Terakhir


pada kereta yang membawaku melintasi malam
aku lepas segala tentang seiring lenguh lokomotif tua
ingin sudah menjadi dingin sedingin lajur kereta
dan biar hujan menghapus semuanya
seperti debu yang terhempas dari gerbonggerbong kosong

ada isak dan sesal perempuan terbawa setengah jalan
tergugu lantunkan mohon lewat sebuah elegi
sampai kata maaf terdengar membosankan
seperti rengek bayi meminta tetek ibunya di bangku belakang
aku, menghitung peron kosong yang terlewati

pada gardu perlintasan itu
lonceng berdentang nyaring menggugah penat
sebentar lagi kereta singgah di stasiun terakhir
masih tak terpikir bila akan kembali
biar takdir yang membawa kereta pulang





beos
10311

Selasa, 01 Maret 2011

Cara Yang Berbeda


Mencintai dengan cara yang berbeda
Meski bertahun-tahun terlewati,
Tetap ada kejutan disetiap sikapnya,
Yang menggelitik hati...

Nyaris berapa kali aku berputus asa,

Berhenti untuk mencintaimu,
Namun, untuk kesekian kalinya,
Aku jatuh cinta lagi kepadamu...

Cinta yang semakin tumbuh untuk setiap masa...
Dengan cara mencintamu dengan hal yang berbeda juga...