Senin, 25 Maret 2013

apa kabar?

Aku percaya
kamu pergi
karena kamu menyayangiku
kamu pun harus percaya
aku membiarkanmu pergi
karena aku juga menyayangimu
Satu hari kala kita bertemu lagi nanti
kala mata kita bertemu lagi
kala hati kita bertemu lagi
kita boleh saling tersenyum
saling memeluk jiwa lagi
Hanya satu hal permintaanku padamu
jika kau masih menyayangiku
jangan pernah bertanya kabarku
'Apa Kabar?' darimu akan terdengar terlalu kejam buatku
'Apa Kabar?' darimu akan mengingatkanku kembali
tentang kematian-kematianku yang sudah kukubur sendiri tanpamu,
akan mengingatkanku kembali pada kematian-kematianku yang sudah susah payah kuhidupkan kembali.

Senin, 18 Maret 2013

Sepotong Tiramisu Rindu


Tentang malam yang telah membuatku selalu rindu padamu. Malam ketika aku datang ke rumahmu, kau menyuguhiku sepotong tiramissu yang di dalamnya kau sisipkan sebuah rindu. Ah, seharusnya aku tanya bagaimana kau membuatnya hingga rindu yang kau sisipkan itu sanggup memenuhi pikiranku.

Di antara riuh hujan di luar sana, suaramu lirih di ujung telepon. Apa itu cukup menutupi rinduku? Tidak akan pernah, sebab rasa rindu itu melekat di tiap gigitan tiramissu buatanmu. Apa perlu berulang kali juga kukatakan tentang ini? Kurasa kau lebih tahu, sebab kaulah satu-satunya orang yang bisa membuatku ingin mengunjungimu lagi. Sepotong tiramissu dan secangkir teh panas serta senyum di bibirmu membayang sepanjang jalan.

Aku pergi sebentar, sebanyak satu hitungan almanak. Menumpuk rindu yang pernah kau berikan padaku malam itu.

"Aku hanya pergi ’tuk sementara
Bukan ’tuk meninggalkanmu selamanya
Ku pasti ’kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali"

Aku Pasti Kembali milik Pasto menemaniku menyandarkan punggung di bangku bus kota sambil kubayangkan senyummu. Ya, aku pasti kembali lagi untuk sepotong tiramissu rindu buatanmu.

Serenade Beranda Rumahku

Sudah hampir setahun aku bekerja di perantauan. Hampir setiap malam pula sepulang kerja, aku menghabiskan waktu duduk di beranda rumah kontrakan. Tak seperti di beranda rumahku sendiri, riuh bocah berlarian sepulang mengaji, sapaan tetangga yang lewat, juga suara denting wajan dan sodet tukang nasi goreng yang mangkal di depan rumah.

Seorang perempuan berpayung hitam mengingatkanku pada ibu. Dulu, ibu kerap bertanya, "ngapain bengong aja..?" ketika mendapatiku di beranda rumah.
Aku rindu itu, rindu pertanyaan ibu sembari duduk di sebelahku.

Tapi, aku di sini sekarang. Berteman gitar dan segelas kopi sambil memainkan serenade tentang beranda rumahku.
Ya, perantauan, jalanku menuju pulang.




#the dark city

aku selalu merasa cukup


sederhana sebenarnya, hanya mangkuk-mangkuk mie ujung jalan
yang selalu kita nikmati sebelum habiskan hari..
atau terpa angin dalam cakap saat kau ada
sembari menatap lintang jingga senja..

sederhana sebenarnya, hanya genggam tangan diantara letih,
menikmati setiap inci lekuk wajahmu,
merasakan hembus nafasmu, di sini
lalu matamu, yang tak pernah kehilangan sinarnya
untuk bantu mentariku cerahkan pagi..

sederhana sebenarnya, hanya kata-kata
temani terjaga bersama
menghitung sekian detik kau tersenyum,
dan sepersekian detik merahnya pipiku..

sederhana sebenarnya, hanya kisah, senyum, kata, dan tatap
yang mengalir diantara kita untuk tetap tinggal;
tapi aku selalu merasa cukup..

dalam diam


adalah waktu yang tak pernah mau membuat kesepakatan
sementara aku melafalkan munajat di antara detak detak yang kupilih
maka pada malam yang menyimpan segalanya dalam diam
kupenuhi ruang sunyi ini dengan za'faran
supaya nanti jika angin itu kembali bertiup
ada tentang aku yang dibawanya pulang ke arahmu
senja tadi
ketika rerintik gerimis kembali mengguyur berandaku
selalu ada yang tak pernah bisa terucap
membiarkannya tetap tersimpan dalam diamnya malam
seperti apa yang kau tahu tentang aku
seperti Adam inginkan Hawa dari rusuknya

menyatu dengan gerimis

Menyatu Dengan Gerimis

oleh puisi cinta pujangga (Catatan) pada 10 Mei 2012 pukul 21:06
Setiap kali turun gerimis aku selalu mengenang sebuah kisah, seperti malam ini Ketika gerimis membuat banyak orang terjebak dalam pilihan pilihan yang sulit, mereka mengumpat kesal ketika berteduh di tepian jalan, beberapa yang lain memaksakan diri berlari dalam gerimis. Kadang, gerimis memang mengesalkan. Tapi, bagiku gerimis menyimpan salah satu memori terindah dalam hidupku. Setiap kali gerimis turun, aku selalu setia menatap jendela, menikmati rintik rintik gerimis merambati genting atau helai helai dedaunan, atau terkadang aku berbaur dengan tetesan gerimis di jalanan, karena gerimis itu indah untukku, didalamnya ada cerita menarik dan menyenangkan untuk ku kenang, bahkan ketika aku tak dapat mengingat bayangan wajahnya dengan baik lagi nantinya, dan semuanya bermula dari gerimis di senja itu.


                   Bermimpi pun aku tak pernah untuk bertemu dengannya pada hari itu, namun hari itu aku benar banar menemuinya dengan apa adanya diriku saat itu, berbekal keinginan dan kerinduan, aku meng-iyakan tawaran untuk bertemu dengannya di tempat dia tinggal saat itu, setelah merepotkkan banyak kawanku, akhirnya aku sampai di jalan sebelum memasuki gang tempat tinggalnya, pesan singkat pun aku kirim pertanda bahwa aku telah sampai di tempat yang ia tunjukkan, ketika aku berjalan menuju tempat tinggalnya, tepat di pertigaan arah ke tempat tinggalnya aku lamat lamat melihatnya dengan motornya, sebelum memanggilnya aku pastikan bahwa itu benar benar dirinya, dan aku tak salah, walaupun mata sudah cukup lama tak sempat menatapnya selama beberapa tahun, namun aku yakin itu dia, dia yang slalu kurindukan dalam diamku, dia yang bila aku mengingatnya bertambah semangatku, iya, itu dia, aku tak akan salah mengingat orang yang tak pernah hilang dari ingatanku.
   Sempat kusebut namanya beberapa kali sebelum akhirnya dia menoleh ke arahku, aku tersentak, tatapan matanya cukup membuatku mengingat kembali ke masa dimana aku terlalu kecil untuk mengerti cinta, cinta sederhana seorang siswa sekolah dasar yang cukup merepotkan. Kemudian kita pun saling menghampiri, aku tersenyum senang ketika mendapatinya dengan busananya yang sopan dibalut kerudungnya yang hitam, ada yang mendesir halus di dalam dadaku, tak bisa aku jelaskan perasaan apa itu, yang aku inginkan hanya semoga waktu berhenti untuk sore itu.
   Sesampainya kita di tempat tinggalnya, dia menawarkan secangkir kopi susu hangat untuk menemani dingin dalam gerimis senja saat itu, dua kursi kayu tempat kita duduk yang terpisah oleh meja kecil di tengahnya itu mengarah ke taman, posisi yang membuat kita sanggup untuk mengamati rintik rintik gerimis berjatuhan, getar getar badanku mungkin sempat terlihat olehnya, kejadian langka yang jarang aku dapati dalam pengalaman hidupku, berdua menikmati rintik gerimis dalam balutan kemuning senja dengan seseorang yang telah lama aku pendam untuknya rasa cinta, cukup rumit bila harus ku gambarkan betapa bahagianya diriku saat itu.
   Rasanya waktu begitu cemburu ketika aku sedang bersamanya, karena waktu dua jam yang kuhabisakan bersamanya terasa hanya beberapa saat saja, jujur aku canggung jika harus berbicara santai dengannya dalam keadaan jantung berdegup kencang, bahkan aku mungkin tampak kebingungan dalam memilih kata yang tepat yang akan aku gunakan utuk menyanjung atau menanggapi tutur katanya, sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, menatap teduh wajahnya yang terbalut kerudung coklat, dan mengamati bola matanya yang tampak berseri seri, senyuman senyuman kecilnya menentramkan kagelisahanku, tutur kata yang keluar dari bibirnya menceriakan suasana mendung bercampur gerimis sore itu, indah, seakan akan senja saat itu menyatu dengan keanggunannya membentuk irama alunan lagu terindah untuk ku.

   Lembayung senja meremang menghilang menjadi malam, mataharipun tenggelam dalam awan awan petang, namun rintik rintik tetesan gerimis terus saja menyaksikan diriku bahagia, hingga gaung gema adzan berkumandang, menyeru untuk segera memenuhi panggilan-Nya, tak terasa, pertemuan terindah ini harus sampai pada akhirnya, rasanya untuk beranjak meninggalkannya cukup berat, langkah langkah ini terantai oleh keanggunan senyumannya sore itu, dan aku tak ingin begitu saja selesai dari rasa bahagiaku, tetapi entah kenapa ada keyakinan dalam diriku bahwa akan ada gerimis gerimis lainnya yang akan menjadi tempat pertemuan kita "nanti". "Hufft !! "Kalimat itu selalu terasa terlalu lama untukku bila terucap darimu, namun, ada doa ini  yang selalu menggema dalam munajatku, " Semoga di dalam istana "nanti", kita bisa memiliki waktu dan suasana yang lebih baik lagi untuk berbicara dengan hati...

Selasa, 27 Desember 2011

Kau Upgrade Marahku dengan Kangenmu

Kesalahan terbesarku adalah menyukainya, mempercayainya, dan mempertahankannya. Karena yang ada kemudian dia tidak menghargaiku, merendahkanku, lalu mencampakkanku. Dan ketika itu semua bertemu, mereka bereaksi membentuk senyawa baru. Sebut saja senyawa itu ‘Benci’ dengan rumus empiris B3NC1. Analogi ini berada dalam medium otakku dengan bentuk zat emosi. Dan sekarang dengan mudahnya dia bilang, kangen…

Setengah tahun berlalu setelah aku dicampakkan olehmu. Dalam rentang waktu itu aku sudah bisa menyesuaikan perasaanku denganmu. Sudah lebih datar dan nyaris tak bergelombang. Dalam rentang waktu itu pula kau terkadang memberi gelombang kejut beberapa kali padaku, membuat jantungku selalu berdetak tidak karuan dan menyumbat aliran napasku.

Kini rasaku padamu telah usai kecuali satu, efek pengkhiatanmu. Kau tahu, tragedi menyesakkan itu telah membuatku membangun batas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Aku mengurung diriku dan takut untuk keluar lagi. Takut membiarkan hatiku mempercayai kaummu, kaum hawa. Bukan! Aku bukan beralih menjadi penyuka sesama jenis. Hanya saja hatiku terus mendesak untuk tidak menjalin hubungan lagi. Entah kenapa, setiap aku dekat dengan seseorang, semakin ku dekat dengannya semakin besar juga dorongan hatiku untuk menjauh. Mungkin ia telah terlalu lelah menahan beban.

“Aku kangen padamu.” Hah! Ayolah, itu hanya membuatku mual. Semakin kau mengatakannya semakin ingin kumuntahkan isi perutku. Ku anggap itu bualan yang hanya membuang waktuku. Tidak bisakah kau membuatku merasa tenang dan mengecup kebahagiaan yang telah kubangun sendiri sedikit lebih lama lagi? Aku telah mendapatkan kebahagiaan yang sempat kau bekukan selama aku bersamamu. Sekarang, tidak akan kubiarkan sedikitpun bagian dari dirimu menyentuhnya. Tidak lagi.

“Aku kangen padamu.” Apa kau mengerti setiap kali kau mengatakan itu saat itu juga aku ingin menambahkan perona merah pada pipimu dengan telapak tanganku. Oh ya, tentu saja kau tidak mengerti karena dari dulu kau memang tidak pernah tahu siapa aku. Tentu saja karena aku selalu membuat pendapat sendiri tentang diriku. Kau ingat, kau penah menjulukiku ‘oon’, ‘aneh’, ‘stress’, dan masih banyak lagi yang lebih buruk dari itu dengan nada merendahkanmu. Apa kau yakin aku seperti itu? Sejauh apa kau mengenalku? Bahkan bisa kusimpulkan kau belum mengenalku.

“Aku kangen padamu.” Berhentilah mengucap kalimat menggelikanmu itu. Berhenti mengacaukan kinerja kesabaranku. Seuntai kata-kata itu hanya mengupgrade emosiku menjadi level yang lebih tinggi. Kumohon, jangan sampai tekanan dalam ruang emosiku meledak. Biarkan aku tenang tanpa kehadiranmu. Tidak cukupkah penyiksaanmu terhadapku dulu? Tidak bisakah kau membiarkanku memeluk kebahagiaan ini tanpa campur tanganmu?

Kesalahan terbesarku adalah menyukaimu, mempercayaimu, dan mempertahankanmu. Karena yang ada kemudian kau tidak menghargaiku, merendahkanku, lalu mencampakkanku. Dan kau tahu, ketika itu semua bertemu, mereka bereaksi membentuk senyawa baru. Sebut saja senyawa itu ‘Benci’ dengan rumus empiris B3NC1. Analogi ini berada dalam medium otakku dengan bentuk zat emosi. Dan sekarang dengan mudahnya kau bilang, kau merindukanku. Sebentar lagi aku mungkin akan memperlakukanmu dengan tidak baik jika kau terus memaksaku untuk mendengar kicauan kebohonganmu itu. Usaikan saja usahamu, aku tidak akan tertipu lagi olehmu.