Kamis, 10 Maret 2011

Peron Kosong Stasiun Terakhir


pada kereta yang membawaku melintasi malam
aku lepas segala tentang seiring lenguh lokomotif tua
ingin sudah menjadi dingin sedingin lajur kereta
dan biar hujan menghapus semuanya
seperti debu yang terhempas dari gerbonggerbong kosong

ada isak dan sesal perempuan terbawa setengah jalan
tergugu lantunkan mohon lewat sebuah elegi
sampai kata maaf terdengar membosankan
seperti rengek bayi meminta tetek ibunya di bangku belakang
aku, menghitung peron kosong yang terlewati

pada gardu perlintasan itu
lonceng berdentang nyaring menggugah penat
sebentar lagi kereta singgah di stasiun terakhir
masih tak terpikir bila akan kembali
biar takdir yang membawa kereta pulang





beos
10311

1 komentar:

  1. lewat lantun kereta dari Batavia
    kubawa gerimis resah ke Buitenzorg
    lenguh kereta lepas lelah di teras stasiun

    di kaki horizon ini, kita tinggal sejenak
    sepeminum teh, mungkin
    atau sampai peluit kereta terakhir berbunyi
    lalu aku, juga kau samasama pulang
    berbekal foto kita dalam satu frame yang sama
    di saku baju masingmasing

    pada tiupan peluit pertama, aku sempat berucap
    bahwa aku tak sekedar pulang ke Batavia
    tapi pergi ke negeri seberang
    kau, justru meminta sebuah lagu dari pemusik jalanan

    "everything mean nothing
    if ain't got you", katamu

    peluit kedua telah berbunyi
    aku masih menyisakan potongan muffin terakhir
    seperti sengaja tak hendak kuhabiskan
    biar tentangku juga masih tersisa di Buitenzorg

    ini tiupan ketiga, tiupan peluit terakhir
    gerbong kereta telah menungguku
    telah kudengar juga sekata rindu darimu
    sebelum kita samasama beradu punggung

    dari Buitenzorg
    senarai gerimis rintikrintik membasahi rel kereta
    membawaku hingga ke Batavia
    menyimpan sobekan karcir kereta
    dan foto kita di saku baju
    juga lagu yang pernah kau minta

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.