
pada kereta yang membawaku melintasi malam
aku lepas segala tentang seiring lenguh lokomotif tua
ingin sudah menjadi dingin sedingin lajur kereta
dan biar hujan menghapus semuanya
seperti debu yang terhempas dari gerbonggerbong kosong
ada isak dan sesal perempuan terbawa setengah jalan
tergugu lantunkan mohon lewat sebuah elegi
sampai kata maaf terdengar membosankan
seperti rengek bayi meminta tetek ibunya di bangku belakang
aku, menghitung peron kosong yang terlewati
pada gardu perlintasan itu
lonceng berdentang nyaring menggugah penat
sebentar lagi kereta singgah di stasiun terakhir
masih tak terpikir bila akan kembali
biar takdir yang membawa kereta pulang
beos
10311
lewat lantun kereta dari Batavia
BalasHapuskubawa gerimis resah ke Buitenzorg
lenguh kereta lepas lelah di teras stasiun
di kaki horizon ini, kita tinggal sejenak
sepeminum teh, mungkin
atau sampai peluit kereta terakhir berbunyi
lalu aku, juga kau samasama pulang
berbekal foto kita dalam satu frame yang sama
di saku baju masingmasing
pada tiupan peluit pertama, aku sempat berucap
bahwa aku tak sekedar pulang ke Batavia
tapi pergi ke negeri seberang
kau, justru meminta sebuah lagu dari pemusik jalanan
"everything mean nothing
if ain't got you", katamu
peluit kedua telah berbunyi
aku masih menyisakan potongan muffin terakhir
seperti sengaja tak hendak kuhabiskan
biar tentangku juga masih tersisa di Buitenzorg
ini tiupan ketiga, tiupan peluit terakhir
gerbong kereta telah menungguku
telah kudengar juga sekata rindu darimu
sebelum kita samasama beradu punggung
dari Buitenzorg
senarai gerimis rintikrintik membasahi rel kereta
membawaku hingga ke Batavia
menyimpan sobekan karcir kereta
dan foto kita di saku baju
juga lagu yang pernah kau minta